Jalan Asia-Afrika kota kembang
Tik... Tik... Tik... Suara keran air yang menetes dari kamar mandi penginapan yang sederhana itu. Pagi sekitar pukul 07.10 wib mulai cerita perjalanan aku di kota kembang sebagai julukan kota Bandung. Dimana yang kita tahu Bandung adalan sebuah kota seniman kota yang penuh banyak cerita sejarah juga.
Pagi itu aku mulai beranjak berjalan mengelilingi sekitar penginapan yang menuju pusat keramaian...
Seketika aku berjalan kaki menghirup udara segar, menuju persimpangan untuk mencari transportasi umum, terhirup aroma kang bubur ayam yang membuat aku ingin mencicipi khas daerah itu dan segelas teh tawar untuk mengisi kekosongan perut di pagi hari saat itu.
Alhamdulillah... Kenyang citarasa khas Bandung yang beneran cocok di lidahku dan tentu dengan harga yang sangat hemat di kantong.
Lanjut aku berjalan menuju jalan Asia -Afrika dengan menaiki angkot umum di kota itu. Konon katanya setiap orang yang berwisata ke Bandung wajib ke jalan tersebut dimana disana terdapat banyak bangunan-bangunan bersejarah yang berbaur tentang Eropa. Dari jendela mini angkot terlihat kursi yang terpajang di bahu jalanan raya itu dengan adanya hiasan bulat seperti bola raksasa, dimana seniman mulai mencari rezeki menjadi badut berdiri di sepanjang bahu jalan tersebut. Jalanan yang bersih tidak terlalu ramai kendaraan gedung putih putih membuat suasana semakin mengenang sejarah.
Stoop.. kang stop. Aku bicara Sama supir angkot untuk meminta turun di kiri jalan.
Satu yang tak lupa aku menuju jalan Braga dan banyak orang yang berfoto di pamflet jalan Braga untuk menjadikan momen kenangan bahwa sudah sampai di kota kembang.
Mengelilingi sepanjang jalan Asia-Afrika dengan berjalan kaki membuat kita terkadang lelah, namun di setiap toko dan bangunan tua disana terdapat cafe - cafe unik untuk kita singgahi menikmati seduhan kopi khas Bandung.
Selama perjalanan kaki aku menemukan di dinding terowongan coretan dari sebuah seniman "dan Bandung bagiku bukan cuma Masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" Pidi Baiq. Sebuah coretan biasa namun penuh makna.
terkadang aku berpikir kenapa orang yang emmiliki seni di kota tempat tinggalku tidak ada yang menampilkan karya karyanya seperti kota kembang sebutku.
Singkat waktu yang kujalani dikota itu namun banyak kenangan dan eplajaran yang kudapatkan sehingga tertulis dalam sebuah cerita untuk kehidupanku dimasa datang.
By.SAri Nalurita,S.Pd
Komentar
Posting Komentar